Dewi Bulan Sang Hyang Nari Ratih
Oleh Adang Suprapto

U mat Hindu di Indonesia setiap rerahinan atau hari suci Purnama Tilem sibuk membuat canang, pesucian dan daksina (sarana sesajen),untuk dihaturkan kehadapan-Nya. Canang biasanya terdiri dari : ceper yaitu sebagai alas dasar berbentuk segi empat bujur sangkar sebagai lambang dari “Swastika” yang terbuat dari janur. Swastika adalah simbol suci Agama Hindu yang merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan Bhuana Agung atau macrocosmos dan Bhuana Alit atau Microcosmos.

Dewi Bulan Sang Hyang Nari Ratih Didalam ceper yang berbentuk segi empat itu terdapatlah raka-raka seperti : pisang dan tebu masing-masing 1 (satu) iris. Kemudian jajan gegiping, boreh miik dan lengis miik diatas tangkih. Diatasnya adalah porosan (daun sirih, kapur putih dan buah pisang). Raka-raka adalah lambang hasil bumi, sedangkan porosan adalah melambangkan sabda, bayu, idep (suara, tenaga dan pikiran).

Diatasnya kemudian disusun dengan duras, yang berbentuk bundar, juga terbuat dari janur. Duras ini adalah lambang dari cakra atau padma yang berbentuk bundar, merupakan dasar kekuatan dan perputaran alam. Selanjutnya disusun dengan bunga-bunga yang harum diatas duras, yang merupakan lambang keharmonisan alam, kesucian, kedamaian abadi dan keindahan surgawi.

Kemudian pesucian berbentuk segi empat panjang yang terbuat dari janur. Diatas tangkih atau celemik diisi boreh miik, lengis miik, sisig (jajan uli yang dihanguskan), daun pucuk/ kembang sepatu yang diiris-iris, tebu, porosan. Diatasnya disusuni duras bisa berbentuk segitiga maupun bundar. Arti dan maksud dari pesucian tersebut adalah : bahwa sebelum umat bersembahyang, terlebih dahulu menyucikan badan, jiwa dan pikiran.

Daksina terdiri dari : bedogan yang terbuat dari daun kelapa hijau tua, berbentuk seperti palung. Kemudian didalamnya terdapat raka-raka berupa pisang dan tebu, gegantusan, dukun-dukun, tingkih, pangi, dan telur, serta kojong yang berisi porosan dan bunga.

Didalam bedogan tersebut berisi kelapa yang telah dikupas kulitnya. Daksina ini adalah lambang “Lingga dan Yoni” (Siwa dan saktinya). Diatas kelapa biasanya disusuni pula dengan bunga sumpang. Bunga-bunga harum yang ditusuk-tusuk dengan kawat, jika daksina tersebut dilinggihkan (ditaruh diatas pelinggih), namun jika hanya untuk menimpali banten yang lainnya tidak usah diisi sumpang.

Pada rerahinan atau hari suci Purnama yang dianggap istimewa oleh umat dibuatkan banten tertentu. Misalnya Purnama yang bertepatan dengan “Gerhana Bulan” maka dibuatkan banten sesayut dirgayusa bumi, dan sesayut durmengala. Sesayut ini dihaturkan kehadapan-Nya dan dipuja oleh Sulinggih. Ketika Purnama Sada dibuatkan “banten sesayut Purnama Sada”.

Purnama dan Tilem umumnya diikuti oleh sasih yang menyertainya. Sasih dalam penanggalan kalender ada 12 (dua belas) yaitu : Sasih Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kadasa, Jiyesta dan Sada. Jika pada penanggalan itu Purnama bertepatan dengan sasih Kapat, maka disebut “Purnama Kapat”. Begitu pula halnya dengan Tilem, jika dia pada sasih kapat itu maka disebut “Tilem Kapat”.

Sebagaimana halnya kebiasaan umat di Bali dan Indonesia pada rerahinan Purnama Tilem itu, maka canang raka dan canang sari dihaturkan di semua pelinggih yang ada di Merajan/Sanggah Kamulan atau tempat suci keluarga. Begitu pula disetiap pelangkiran yang ada dalam rumah tangga. Di lebuh, di sumur, di dapur, penuggun karang, pemedalan, pintu regol, di natar dan sebagainya.

Banten atau canang ini dihaturkan kehadapan-Nya dengan perwujudan Sang Hyang Nari Ratih. Sang Hyang Nari Ratih adalah nama lain dari Dewi Soma, sebagai istri dari Dewa Candra. Tujuannya untuk memohon berkah-Nya, agar pikiran-pikiran seseorang yang gelap diterangi oleh-Nya, dibimbing menuju ke jalan yang benar. Agar hati, jiwa serta pikiran selalu dilandasi kedamaian, ketenangan dan keindahan.

Rerahinan Tilem dirayakan ketika bulan mati, maksudnya gelap (tidak ada sinar bulan dilangit). Kegelapan pada hari Tilem ini, justru bernuansa religius. Ditinjau dari pengetahuan Astronomi bahwa pada bulan Tilem itu posisi bulan berada diantara Matahari dengan Bumi.

Sehingga suasana menjadi gelap di malam hari dibumi. Pada Tilem kepitu yang disebut dengan Siwaratri umat Hindu merayakannya dengan membuat dan menghaturkan banten “Pengukup Jiwa dan Sesayut guru asih”. Karena datangnya setiap bulan, maka dalam setahun dapat dijumpai 12 (dua belas) kali rahinan Purnama dan 12 (dua belas ) kali rahinan Tilem.

Purnama dan Tilem oleh umat Hindu sering dimanfaatkan untuk berdiskusi di Pura-pura sehabis sembahyang. Ada juga beberapa umat melakukan tirtayatra ke pura-pura tetentu untuk melakukan meditasi.

Tujuannya adalah untuk memperoleh ketenangan, kedamaian, kebahagiaan dan inspirasi. Pada hari suci Purnama Tilem inilah para sastrawan, pujangga, para meditator melakukan perenungan untuk mendapatkan ide-ide baru.

LATAR BELAKANG DAN SEJARAH

Purnama dan Tilem sudah dirayakan oleh Nenek Moyang di Negeri Nusantara, sebelum pengaruh Hindu datang ke Indonesia. Dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, bahwa hari suci Purnama Tilem erat kaitannya dengan keberadaan Dinasti Candra.

Dinasti Candra menganggap bahwa leluhurnya dahulu adalah berasal dari keturunan suci, yang diturunkan ke bumi sebagai Dewa Candra atau Dewa Bulan.Sakti atau istri Dewa Candra itu disebut Dewi Soma. Dewa Candra dan Dewi Soma inilah kemudian menurunkan wangsa Candra.

Dewi Bulan Sang Hyang Nari Ratih Dalam kurun waktu yang berabad-abad kemudian keturunan bangsa dari Dinasti Candra muncul kepercayaan, bahwa bulan Purnama dan Tilem adalah sebagai hari suci bangsa bersangkutan. Kepercayaan ini kemudian dianut oleh berbagai kepercayaan di belahan Negeri Timur dari berbagai sekta. Akhirnya hari suci Purnama dan Tilem juga dipercaya oleh Umat Hindu di Nusantara sebagai hari sucinya.

Bagi umat Budha hari suci “Waiçak” yang bertepatan dengan Purnama mempunyai keistimewaan tersendiri. Karena pada Bulan Purnama pula beliau mencapai pencerahan (Nirwana). Begitu pula beliau wafat pada bulan Purnama Juga.

Sedangkan bagi umat Hindu pada Tilem Kepitu (Ketujuh) dan Tilem Kesanga (kesembilan) dirayakan secara khusuk dan kidman. Tilem kepitu bagi umat Hindu adalah Siwaratri. Hari suci Siwaratri ini erat kaitannya dengan cerita Lubdaka karangan Empu Tanakung. Ceritanya adalah sebagai berikut :

Lubdaka adalah seorang pemburu binatang di hutan, pekerjaannya adalah memburu dan membunuh binatang yang dagingnya dimakan atau dijual. Begitulah pekerjaannya saban hari, hingga pada suatu hari dia kembali ke hutan untuk berburu. Namun sayang pada hari itu nasibnya lagi sial dan apes. Karena tidak ada seekor binatang pun yang didapatkannya. Malang baginya karena ingin mendapatkan binatang buruan, hinga dia lupa dengan waktu. Tak terasa hari telah menjelang senja dan sebentar lagi malampun tiba.

Dia bermaksud untuk pulang, namun karena sudah keburu malam dan haripun gelap gulita, akhirnya Lubdaka memutuskan untuk menginap saja dihutan. Karena takut disergap binatang buas, maka dia berusaha mencari tempat ketinggian diatas pohon.

Tak terasa kakinya melangkah pada sebuah pohon “Bila”. Yang mana dibawahnya terdapat air telaga yang bening, dengan sebuah pelinggih dan lingga. Dia naik keatas pohon Bila kemudian bersandar. Untuk menghilangkan kantuknya dia memetik daun-daun Bila.

Karena jika ia tertidur diatas pohon tentu akan jatuh. Setangkai demi setangkai daun bila itu dipetiknya dan dijatuhkannya kebawah. Sehingga mengenai “Lingga” yang ada dibawahnya.

Mungkin Lubdaka sendiri tidak menyadari bahwa pada hari itu adalah malam Siwaratri (Tilem Kepitu) dimana pada hari itu Siwa sedang beryoga. Sambil memetik daun bila, dia mulai menyesali segala perbuatannya dimasa-masa yang lampau.

Disana kemudian dia berjanji dalam hatinya untuk menghentikan pekerjaannya sebagai seorang pemburu. Setelah begadang semalam suntuk pagipun tiba, maka dia mulai berkemas-kemas untuk pulang.

Sejak hari itu dia berhenti beruru dan beralih profesi sebagai petani. Namun setelah itu dia mulai sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Kemudian dikisahkan arwah Lubdaka melayang-layang diangkasa, tidak tahu jalan harus kemana. Selanjutnya datanglah pasukan Cingkarabala membawanya pergi hendak dimasukkan kekawah Candragomuka yang berada di Neraka.

Pada saat itulah Sang Hyang Siwa datang dan mencegat pasukan Cingkarabala. Terjadi dialog yang sengit antara pasukan Cingkarabala dengan Bhatara Siwa. Pasukan Cingkarabala bersikeras hendak membawa arwah Lubdaka ke Neraka. Karena dimasa hidupnya dia sering melakukan pembunuhan terhadap binatang hutan.

Namun Sang Hyang Siwa menjelaskan bahwa Lubdaka sudah membuat penebusan dosa pada malam Siwararti, yaitu begadang semalam suntuk disertai dengan penyesalan akan dosa-dosanya dimasa lampau. Sehingga dengan demikian dia berhak mendapatkan pengampunan. Maka demikianlah, singkat cerita Lubdaka dibawa ke Siwa Loka.

Agama & budaya - Halaman depan

Dewi Bulan Sang Hyang Nari Ratih - Paris Sweet Home

Akomodasi untuk liburan, sewa villa, bungalow dan rumah untuk liburan di Bali.

Paris Sweet Home ® 2012. All rights reserved.