Pawiwahan Dewa Siwa Dengan Dewi Parmati
Oleh Adang Suprapto
S
atu sumber suci agama Hindu yang sangat kaya dengan ajaran ketuhanan (Brahma
Widya) adalah pustaka suci Purana.
Adapun pustaka suci purana yang dimaksud adalah
Siwa Purana. Pustaka siwa purana merupakan bagian dari pustaka suci Maha Purana
yang jumlahnya delapan belas buah purana. Sebagaimana diketahui pustaka suci
Siwa Purana ada menguraikan mengenai Dewa Siwa dan Dewi Parwati.
Dewa Siwa dan Dewi Parwati merupakan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, yang diyakini
oleh umat Hindu, yang memiliki beragam kemahakuasaan yang bergelar Dewa Siwa
serta memiliki kekuatan yang maha tinggi, yang bergelar Dewi Parwati. Diketahui
bahwa Dewa Siwa adalah esa atau tunggal. Namun beliau memiliki banyak gelar atau
nama. Sedangkan Dewi Parwati adalah seorang putri Himawan yang diyakini juga
sebagai salah satu kekuatan (sakti) atau istri Dewa Siwa.
Sesuai pustaka suci Siwa Purana bahwa Dewa Siwa dan Dewi Parwati merupakan asal
dari semua yang ada di dunia ini. Beliau merupakan pencipta segalanya. Beliau
yang memberikan segala ciptaan-Nya suatu kekuatan untuk bisa eksis. Tanpa beliau,
maka alam ini menjadi tanpa makna. Bisa saja alam beserta isinya menjadi makmur,
subur, memberi manfaat serta berguna bagi segala kehidupan. Namun, pada sisi
lain segala yang ada di dunia ini sesungguhnya tidak langgeng adanya.
Dewa Siwa dimuliakan oleh umat Hindu melalui pemujaan di tempat – tempat
suci, seperti di mandir atau mandiram, pura, kuil, candi, parahyangan, sanggah,
pemerajan, dan yang sejenisnya. Beliau diyakini oleh umat Hindu memiliki tempat
yang mulia dinamai Siwalaya. Dalam keyakinan kuna, beliau berstana di Gunung
Kailasa atau Gungung Himalaya yang ada di negeri Bharatiya atau di Jambhu Dwipa,
yang pada jaman modern dikenal sebagai negara India. Akan tetapi, bagi umat Hindu
di Indonesia, khususnya di Jawa, beliau diyakini bersthana di puncak gunung Semeru
yang terletak di Senduro Jawa Timur. Namun umat Hindu di Bali berkeyakinan bahwa
beliau bersthana di Puncak Gunung Agung, serta jika di pulau Lombok, beliau bersthana
di puncak Gunung Rinjani.
Mengapa beliau bersthana di gunung atau giri (parwata)? Sesuai pustaka suci Siwa
Purana bahwa beliau dipuja-puji oleh uamt Hindu dunia berupa lingga. Lingga merupakan
lambang dari Dewa Siwa adalah gunung itu sendiri (giri atau parwata). Maka dari
itu, gunung adalah tempat suci, tempat yang dikeramatkan oleh umat Hindu. Semua
getaran atau vibrasi spiritual ataupun kemagisan tentang ketuhanan berpangkal
dari beliau yang bersthana di gunung. Dalam kepercayaan tradisional di Bali misalnya,
gunung juga tempat sthana para roh suci leluhur, karena itu umat Hindu juga meyakini
gunung sebagai lingga sthana para leluhur yang telah suci yang bertujuan untuk
memberikan penghormatan atau bhakti kehadapan leluhur yang telah suci dengan
suatu upacara yang dinamai upacara nyegara gunung (laut dan gunung). Seperti
dalam kenyataan, praktik keagamaan Hindu banyak dilakukan di segara Goa Lawah
dan Pura Besakih, di segara Tanah Lot dan Pura Batukaru.
Dewa Siwa dan Dewi Parwati diyakini oleh Umat Hindu sesuai sumber suci purana
memiliki putra bernama Karttikeya, Ganesa dan Hanoman. Kattikeya dikenal sebagai
putranya yang pertama antara Dewa Siwa dan Dewi Parwati, yang juga sikenal dengan
nama Skanda, yang memiliki keahlian untuk berperang, maka beliau juga dikenal
sebagai dewa perang, sedangkan Ganesa dikenal sebagai dewa kebijaksanaan atau
kearifan. Nama lain Ganesa dan Ghana atau Ghanapati. Beliau terkenal sebagai
sumber kecerdasan, kearifan, kebijakan, memiliki kedisiplinan yang tinggi, serta
taat kepada perintah ibunya, yakni Dewi Parwati. Beliau juga dikenal sebagai
penyelamat dari mara bahaya. Tidak heran beliau digelari Wighneswara, yakni dewa
dari segala kesulitan. Diyakini bahwa beliaulah sebagai penghalang dan penghalau
segala kesulitan umat manusia di dunia ini.
Putra Dewa Siwa yang ketiga dengan Dewi Mohini (yang dilahirkan oleh Dewi Anjani
istri raja monyet bernama Kesari) diyakini juga oleh umat Hindu yang bernama
Hanoman. Siapakan Hanoman itu? Hanoman dikenal juga sebagai putra Dewa Bayu (Dewa
Angin). Dalam jaman Rama, Hanoman dikenal sebagai penyelamat Dewi Sita, istri
Sang Rama. Hanoman dan Sugriwa secara bersama-sama menjalin persahabatan baik
dengan Sang Rama. Hanoman sebagai abdi yang setia dan mulia kepada Sang Rama
memiliki ilmu sastra, intelektual yang tinggi, memahami segala ilmu pengetahuan
serta menguasai bahasa sansekerta. Jika di Bharatiya, bahwa di mandir Hanoman
sangat disucikan dan dimuliakan melalui sebuah patung Hanoman yang dilumuri minyak
yang berwarna jingga yang diyakini sebagai dewanya kekuatan dan penjaga maupun
sebagai penakluk semua roh jahat.
Selanjutnya mengenai Dewi Parwati adalah putri dari Himawan yang memiliki kekuasaan
di Pegunungan Himalaya atau Gunung Kailasa. Dewi Parwati juga dikenal bernama
Sati atau Uma atau Girija yang berarti putri gunung. Dewi Girija sangat tekun
memuja dan memuliakan Dewa Siwa di kuil atau mandir Siwa yang selanjutnya bersuamikan
dewa dari para dewa, yakni Dewa Siwa. Kisah awalnya, Dewa Siwa melakukan tapanya
(tapasya) di Gunung Kaliasa dan ketika itu Dewi Parwati sangat tekun melakukan
pemujaan dengan berbagai bunga-bungaan serta harum-harum. Ketika itu, Dewa Siwa
yang tapanya sedang memuncak tetap diagungkan oleh Dewi Parwati. Saat itu, rupanya
Dewa Siwa tahu tujuan Dewi Parwati, maka berubah wujudlah Dewa Siwa menjadi Sang
Brahmana yang tampan sambil menggodanya. Ketika itu, sedikitpun Dewi Parwati
tidak tergoda atas rayuan Sang Brahmana itu. Tahu akan ketulusan hati Dewi Parwati
memuja Dewa Siwa, maka kembalilah beliau dalam wujud aslinya. Akhirnya, Dewa
Siwa menerima Dewi Parwati. Beliau kemudian menghadap keapada ayah dan ibunya
(Himawan dan Maina) untuk menjadi saksi dalam pawiwahan antara Dewa Siwa dengan
Dewi Parwati.
Agama & budaya - Halaman depan
